sponsored by

Saturday, May 29, 2010

Ketika pertama kali masuk kuliah

Ketika pertama kali masuk kuliah, bapakku menitipkan aku kepada seorang temannya di kota tempatku kuliah. Uniknya om Warsito (panggil saja begitu) - teman bapakku itu, punya kost-kostan tapi untuk putri. Aku sendiri mendapat kamar di paling belakang menghadap ketaman belakang yang sengaja aku pilih sendiri karena tempatnya yang paling tenang. Om Warsito seorang pengusaha yang cukup sukses. Dia jarang sekali berada dirumah. Begitu juga Tante Sri, dirumah hanya 2 atau 3 hari dalam seminggu selainnya itu berada di Surabaya dan Denpasar untuk mengurus bisnis souvenirnya yang maju pesat. Yang dirumah hanyalah Ivonne (15 thn) dan Gilbert (8 thn) serta dua orang pembantu yang sudah tua. Kost-kost Om Warsito mempunyai 7 kamar dengan tarif 450 ribu Rupiah sebulan. Untuk ukuran kotaku tarif ini mahal sekali. Dari enam cewek yang kost ternyata beberapa minggu setelah aku berada disana, ketahuan ternyata yang 3 orang adalah kakak angkatanku (satu jurusan) dan yang lainnya nggak jelas kuliah atau apa. Yang jelas mereka jarang berada di kost. Paling-paling malam banget datang terus pagi sekali sudah nggak ada. Sedangkan yang 3 orang ini, Ana, Inggit dan Endah kebalikannya, mereka selalu ada dirumah, jarang kuliah meski mereka juga belum pada punya pacar. Ana yang paling tinggi diantara mereka, dia juga yang paling cantik, tetapi bentuk tubuhnya yang terjelek. Payudaranya lumayan, tetapi pantatnya lebar dan datar. Kulitnya halus dan mulus. Dia juga yang tertua diantara ketiga kakak angkatanku itu. Inggit yang termungil tetapi tubuhnya yang terbagus menurutku. Pantatku indah dan tampak penuh, payudaranya meski nggak besar tetapi bentuknya merangsang. Putingnya lancip, kelihatannya, karena dia jarang pakai BH ketika ada di kost jadi kadang-kadang kelihatan olehku tercetak dibajunya. Sedangkan dari ketiga kakak angkatanku itu, Endahlah yang paling proporsional, tingginya cukup, tidak setinggi Anna tetapi juga tidak semungil Inggit. Pantatnya penuh dan merangsang, payudaranya besar, kulitnya putih dan mulus, rambutnya hitam panjang. Dan yang paling kusuka dari mbak Endah ini adalah kebiasaannya selalu mengenakan celana pendek ketat balap warna putih bila berada dirumah. Kuperhatikan bagian selangkangannya selalu tampak menggunduk seperti sabun gif dan kadang-kadang tampak sekali bibir-bibir labianya membentuk gundukan-gundukan yang tidak rata di bagian selangkangannya. Tahu tidak, hanya dalam sebulan berada di rumah Om Warsito, frekuensi ngocokku naik hampir 4 kali lipat. Jika waktu SMA aku melakukannya seminggu sekali, itu aja kalo lagi nggak kuat banget. Sekarang, pingin nggak pingin asal sudah berada dikamar dan lagi nganggur, bawaannya pingin ngocok terus. Biasanya frekuensi ngocok paling sering justru terjadi dihari Minggu pagi ketika semua berada dikost. Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali mereka sudah berkicau didepan kamarku dengan pakaian kebanggaannya masing-masing. Mbak Endah dengan celana ketat putih bergunduknya, mbak Inggit dengan kaos tanpa BH-nya dan mbak Ana dengan rok panjang terusannya yang menerawang. Sambil ngerumpi (apalagi kalo nggak masalah cowok - maklum pada belum punya pacar semua), posisi duduknya nggak beraturan dan seenaknya sendiri. Aku hanya bisa mengamati dari dalam kamar sambil kadang-kadang…lha ini yang enak banget…ngocok. Dan enaknya mereka nggak tahu aku lagi ngapain karena kaca jendelaku yang gelap dan bagi mereka aku hanyalah anak kecil sampai suatu ketika mereka aku yakini menjadikan aku salah satu bahan rumpian mereka. Ketika itu hujan turun, Ivonne dan Gilbert ikut mamanya ke Surabaya. Eh iya aku lupa ceritain tentang Ivonne. Meski doi baru 15 tahun, tahu nggak, bodinya udah kebentuk sempurna, apalagi doi tergolong bongsor. Jadi meski kecil kadang-kadang aku ngaceng juga melihatnya. Tapi karena doi adalah putri Om Warsito, jadi ya nggak masuk dalam koleksi lamunanku. Hujan nggak berhenti dari pagi sampai malam hari, padahal aku lapar banget. Tadi pagi siang udah makan. Tapi mau masuk kedalam rumah kok nggak enak. Apalagi pembantu-pembantu Om Warsito kayaknya nggak suka aku ada dirumah itu. Mungkin diam-diam mereka mengamati tingkah lakuku dan kejadian ketika aku melotot menelanjangi Ivonne ketika doi sedang senam di belakang rumah. Belum pukul 7.00 malam mereka sudah nggak kelihatan, udah tidur. Aku tiduran dikamar sambil nonton TV, acaranya nggak ada yang bagus. Sambil berbaring tergeletak mendengarkan rintikan hujan yang nggak henti-hentinya, aku mulai membayangkan tiga dara yang ada disitu. Nggak terasa kontolku tegang, bagian ujungnya tampak membesar keras (kalian udah tahu khan kalo, kontolku itu kepalanya besar seperti pemukul bedug…kalo belum baca deh cerita Vonny di page93). Ketika sedang melayang kemana-mana, tahu-tahu pintu diketok. "Mas Rudi!", aku segera bangkit dan merapikan celana pendekku …. sial aku nggak pake celana dalam, sehingga tampak sekali sesuatu mencuat dibagian selangkanganku. Belum siap aku, pintu udah terbuka. "Mas, ikutan yuk main poker dikamar Inggit. Kita kekurangan pemain nih!", mbak Inggit memandangi sesuatu yang janggal dibagian selangkanganku. Aku gelagapan. Sambil berusaha menutupi aku menjawab: "Sebentar aku nanti kesana!" "Ditunggu ya!", mbak Inggit menutup pintu dan berlalu. Aku segera melepas celana pendekku dan memakai celana dalam kemudian memakai celana pendek lagi. Wah kesempatan nih, mengamati dari dekat mereka-mereka itu. Aku mengunci pintu, dan berjalan perlahan kekamar mbak Inggit. Sampai didekat pintu kamarnya aku berhenti dan mendengarkan sedikit kata-kata mereka. "Gila An, si Rudi nggak pake celana dalam dan tau nggak, lagi ngaceng dia." "Yang bener Nggit, emang kamu pernah ngliat cowok ngaceng?" "Ya tadi itu" "Huuu….semprul" "Tapi bener kok, kalo nggak, terus yang tadi kelihatan banget ngganjel di celananya itu apa?" Sunyi sejenak, aku terdiam. Akhirnya mereka membicarakan diriku. Aku mau mengetuk pintu tapi ragu-ragu. Terdengar lagi percakapan mereka. "Eh ngomong-ngomong, gedhe nggak?" suara Ana terdengar agar pelan. "Apanya?" "Ya itunya bego!" "Oh..kelihatannya sih gedhe….ah udah udah, nggak usah dibicarain.. sebentar lagi doi kesini..kamu amati sendiri aja deh!" "Eh…bagaimana kalo nanti taruhan pokernya….ehhh…yang kalah telanjang satu persatu…kalo menang boleh pake pakaiannya lagi…gimana?", suara Endah terdengar. "Gila kamu Ndah, emang kamu berani?" "Kita khan udah jagoan main poker, tak jamin dia pasti telanjang bulat nanti" "….ehmmm…kalo ternyata dia jagoan poker bagaimana?" "Ya nasib!" "Dasar eksibisionis kamu Ndah!" "Eh….pikirkan keuntungannya my friends!" Sunyi sejenak lagi. "Kok lama banget ya?" suara Ana "Ngocok kali!" suara Endah menohokku. "Jadi aku tadi ngganggu hajatan orang nih?", Suara Inggit. "Kita tunggu aja deh!" Aku bukannya mengetuk pintu kamar mbak Inggit. Aku tiba-tiba saja menemukan ide entah darimana. Aku balik kekamar dan kembali melepas celana dalamku, memakai celana pendekku dan segera bergegas kekamar mbak Inggit sebelum kontolku ngaceng lagi. Aku mengetuk pintu kamar mbak Inggit. "Masuk Rud!" Aku masuk kamar dan mereka bertiga serentak memandangku sambil sesekali mencuri pandang ke bagian selangkanganku. Aku segera duduk disamping mereka sebelum doi berontak dan tegang. "Katanya poker, mana mbak?" "Ehhh…anu … Rud…ada peraturan khusus di lingkungan kita tentang permainan poker!" Aku pura-pura tidak tahu, dan bertanya: "Apa itu mbak?" "Jelasin An!" "Begini dik Rudi, poker kita taruhannya bukan uang tapi……pakaian!" "Maksud mbak, kalo kalah taruhannya baju gitu!, emang buat apa baju cowok buat mbak-mbak ini?" aku pura-pura bego. "Maksudnya begini lho Rud, biar lebih tegang, setiap kali kamu kalah kartu maka kamu harus melepas baju kamu satu persatu. Kalo kamu menang, kamu boleh pake lagi itu baju. Bagaimana, pasti seru khan!" "Ihhh…mbak-mbak ini genit deh!" aku masih pura-pura bego meski akhirnya kontolku nggak bisa pura-pura lagi. Doi memanjang, membesar dan mengeras didepan mereka-mereka ini. Jadi bisa dibayangin nggak sih, betapa anehnya perasaanku saat itu. Disatu sisi, aku gelagapan dengan ide ini, disisi lain, kontolku terasa enak karena ngaceng didepan cewek-cewek ini dan nggak bisa sama sekali kututupi dari pandangan mereka yang sesekali mengamati bentuk sosisku yang tercetak di celana pendekku. Sempat aku mengutuki keputusanku melepas celana dalam. Suasana jadi nggak enak karena mereka jadi belingsatan sendiri, terutama Endah. Suara nafasnya yang panjang-panjang terdengar sesekali. Terlihat sekali bahwa dia kesulitan mengendalikan perasaannya. Yang tenang malah mbak Ana. "Ayo kita mulai, gimana Rud, berani nggak?" "Boleh deh, tapi kalo nanti Rudi kalah sampai telanjang bulat, jangan diapa-apain ya. Cukup diliatin aja!" "Ok Rud, ini khan hanya permainan!" Mulailah permainan poker maut ini. Sesekali aku mengejan sehingga batang kontolku bergerak-gerak sendiri. Mbak Endah udah nggak mencuri-curi pandang lagi, tapi udah ngeliatin langsung dengan tajam sambil berusaha mengendalikan irama nafasnya. Aku menunduk ……… brengsek di bagian kepalanya tercetak noda basah. Keluar juga pelumasnya. Aku udah kepalang. Malah secara atraktif aku dengan cuek sesekali memegang batang kontolku dan menyamankan posisinya dibawah tatapan mereka. Kartu dibagikan, pada putaran pertama aku bersemangat banget karena yang kalah mbak Endah (karena dia nggak konsentrasi). Dia perlahan melepas kaosnya dan …….. brengsek masih pake kaos singlet. Tetapi payudaranya sudah kelihatan sebagian. Wah…kontolku semakin mengeras dan berkedut-kedut. Demikian juga putaran kedua, wah lagi-lagi keberuntunganku, Mbak Endah terpaksa harus melepas singletnya, …. Sehingga dia hanya pake BH sekarang. Wao …. tampak gundukan yang besar dari daging payudaranya melotot memenuhi BH-nya. Putaran ketiga, Inggit yang kena, ……….. lagi-lagi keberuntunganku, dia melepas sweaternya dan oh my God ……….. payudara mungil nan indah dengan puting yang mencuat indah. Kontolku mulai nggak kompromi lagi, kedutan-kedutannya terasa seperti mengocok-ngocok terasa nikmat sekali. Cairan bening yang menodai celana pendeknya semakin meluas. Inggit berusaha menutupi dadanya sehingga praktis putingnya tertutup kedua tangannya.

"Wah mbak Inggit curang", tiba-tiba saja suaraku keluar spontan. "Curang apa Rud?" "Itu …. Ditutupin, dibuka dong!" "Lho khan peraturannya melepas baju, bukan memamerkan tubuh" "Tapi khan" "Iya bener Rud!", suara mbak Ana yang sampai saat ini masih stabil memecah kesunyian. Aku terdiam dan menyerah. Kebalikan dari Inggit, Endah malah secara demonstratif membuka seluruh bagian yang terbuka itu tanpa berusaha sedikitpun untuk menutupinya. Kontolku semakin berkedut-kedut dan keras sekali terutama bagian kepalanya yang besar tercetak dengan jelas di celana pendekku. Putaran berikutnya, aku yang kena dan terpaksa aku melepas kaosku dan menyisakan singlet. Tidak ada kejadian apa-apa..pikirku demikian, sedangkan pemenangnya adalah mbak Ana sehingga tidak ada kejadian apa-apa karena dia masih berpakaian lengkap. Putaran berikutnya aku lagi yang kena dan mbak Ana lagi yang menang dan terpaksa harus melepas singletku. Aku harus berusaha lebih keras dan tidak kehilangan konsentrasi. Kartu dibagikan dan dimainkan. Horeeee…. Endah terkena. Dia melepas BH-nya dan ….toing!!!…. payudara besar itu terbesar dari kungkungannya dan menggantung dengan indah, putingnya tampak mancung dan berwarna coklat tua. Aku mulai gelagapan dengan irama nafasku. Tapi karena mengejar target untuk melihat mereka-mereka telanjang bulat, aku terus konsentrasi penuh. Dan hasilnya dalam tiga putaran berikutnya, Inggit dan Endah sudah telanjang bulat. Rinciannya dua kali Inggit untuk celana panjang dan celana dalamnya, dan satu untuk celana pendek ketat putih milik mbak Endah. Dia ternyata tidak bercelana dalam (ini menjelaskan kenapa kadang-kadang gundukannya tampak bergelombang karena bibir-bibir labianya yang ternyata memang tebal). Sementara mbak Ana sendiri sangat piawai bermain poker sehingga dia masih berpakaian lengkap sampai saat ini. Sedangkan aku sendiri tinggal menyisakan satu untuk menjadi telanjang bulat. Kontolku mulai berontak berat. Kedutan-kedutannya seperti memompa sesuatu untuk keluar. tapi aku tahan-tahan. Dalam keadaan seperti itu justru sekarang akulah yang tidak berkonsentrasi. Gimana bisa konsentrasi jika sesekali Endah membuka kakinya sehingga tampak gundukan yang terawat rapi dengan jembut yang dicukur rapi dan indah modelnya. Klitorisnya tak mampu tertutupi oleh gundukan itu. Begitu juga bibir-bibir labianya tampak menggelambir merah basah. Dan ini yang membuat aku nggak kuat, sesekali dia menggerakkan pinggulnya kekarpet yang berakibat pada bergeseknya vaginanya ke karpet. Terdengar nafas tertahan yang tak mampu ditutupinya. Gila bener!. Sedangkan si Inggit sudah menghilangkan minatku kepadanya karena dia menutup kakinya rapat-rapat, begitu juga posisi tangannya yang menyilang menutupi kedua buah putingnya. Sedangkan mbak Ana, sudah hilang tadi-tadi dari sasaran birahiku sementara ini. Keasikan mengamati mereka membuat putaran kali ini menjadi awal dari hilangnya keperjakaanku. Aku kalah pada putaran itu dan terpaksa harus melepas celana pendekku. Aku berdiri dan membuka celana pendekku sehingga batang kontolku yang tadi terkungkung tiba-tiba menyentak kedepan dengan cepat dan membuat kepalanya yang besar tampak seperti pemukul bedug. Ketiga cewek itu menahan nafas ketika batang kontolku tampak menegang penuh dan mengacung kedepan, terutama mbak Endah. Dia sudah bukan lagi menahan nafas tetapi sudah terdengar melenguh karena bersamaan dengan telanjang bulatnya aku dia menggerakkan pinggulnya cepat sehingga menggesekkan klitorisnya kekarpet. Aku duduk lagi, dan kami beberapa saat tidak berkata apa-apa hanya saling memandang masing-masing dengan pandangan yang aneh. Tiba-tiba… "Rud, ikut mbak …………kekamar mandi ………yuk!", suara mbak Endah perlahan sekali nyaris berbisik. Aku seperti kerbau dicucuk hidungnya dan mengikuti mbak Endah masuk kekamar mandi di kamar Inggit dibawah tatapan Inggit dan Ana yang masih terdiam dan tak sanggup berkata apa-apa. Mbak Endah masuk dan setelah aku masuk juga dia mengunci pintu dan memandangiku terus tiba-tiba saja……aku dipeluknya erat dan aku merasakan tangannya memegang batang kontolku dengan lembut. "Do something…Rud!", suaranya nyaris berbisik. Mbak Endah duduk dipinggiran bak kamar mandi dan perlahan membuka kedua pahanya sehingga sekarang tampak jelas semua bagian vaginanya. Aku udah nggak ingat apa-apa yang kutahu tiba-tiba saja ada tangan memegang batang kontolku dan mengarahkannya ketumpukan daging-daging berwarna merah basah dan mengkilat itu. Kemudian yang terasa seperti ada jepitan yang kuat dikontolku terutama disekujur kepalanya yang tampak keras sekali. Aku mendengarkan suara desahan yang keras. Aku nggak tahu apakah mbak Endah masih perawan atau tidak, aku juga tidak memperhatikan apa ada darah yang keluar atau tidak. Yang paling kuingat adalah ketika aku menusuk-nusukkan batangku dengan cepat diiringi oleh suara lenguhan yang cepat dan diakhiri oleh jeritan yang panjang yang keluar dari mulut Mbak Endah dan aku merasakan keluarnya spermaku diiringi oleh rasa nikmat yang amat sangat, jauh lebih enak dibandingkan dengan ngocok swalayan. Sampai beberapa saat ketika aku sadar, aku tiba-tiba merasa malu karena telanjang bulat di kamar kost orang lain, cewek lagi. Sampai sekarang aku masih ingat sekali kejadian hilangnya keperjakaanku itu. Dan tahu tidak siapa diantara mereka yang setelah kejadian itu justru yang rutin mengunjungi kamarku dan belajar bersama tentang sex. Tebak deh….. dan kirim permintaan cerita itu ke setiawanrudi@h... agar aku mau menceritakannya