sponsored by

Saturday, May 29, 2010

Nani Gadisku PART 7

Tepat pada jalanan yang agak gelap, kusuruh Nani melucuti BH-nya saja sekalian dan memasukkan ke kantung belanjaan, "Sret.. sret.. sret.." lepaslah benda penghalang tanganku untuk bergerak lebih leluasa memperoleh kedua daging montok itu, karena kini hanya terhalang baju kaos longgarnya saja.

Nani Gadisku PART 6

Pengalamanku yang intim bersama adik induk semangku sudah beberapa hari berlangsung, membuatku demikian hanyut dalam nikmatnya dunia yang baru kurasakan sejak ditinggal kakaknya pulang kampung sekeluarga. Kesempatan ini benar-benar memberikan pengalaman yang tidak terkira bagiku.

Nani Gadisku PART 5

Lalu berdua kami tidur berpelukan, tanpa pakaian. Nani yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk pukul 13:45. Dua ronde permainan makan waktu hampir 1,5 jam, pantas saja aku lelah. Dengan tergagap aku terbangun. Hah.. Dimana aku ini? Nani masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah rupanya sempat aku terlelap sesaat, aku tertidur di kamar Nani! Ada rasa enak di bawah sana dan Nani sedang mengelus-elus penisku yang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 13:55. Ah, sudah hampir habis jam kerja, berarti aku harus kembali ke kantor untuk sekedar absen. Tapi Nani ini.. Nani memandangku, tersenyummanis tapi dia tahu apa yang akan kulakukan.

Nani Gadisku PART 3

Kelanjutan cerita ini pada hari pertama aku ditinggal induk semangku yang sedang pergi bersama keluarganya ke kampung, dan saat itu pula aku untuk pertama kalinya melepas keperjakaanku di rumah kost dengan Nani seorang gadis yang kebetulan adik induk semangku. Aku berdua melakukan kehidupan ranjang malam seolah bagiku menjalani malam pertama sepasang pengantin.

Nani Gadisku PART 4

Cerita sebelumnya ketika pagi aku berangkat kerja, meninggalkan gadisku Nani sendiri di rumah hingga saat aku pulang waktu istirahat jam kantor. Sebagaimana kebiasaan sebagai karyawan kantoran, curi-curi waktu kesempatan istirahat antara jam setengah dua belas siang. Walaupun itu sebenarnya tidak ada aturan formal, namun kesempatan itu kugunakan untuk pulang ke rumah yang kebetulan sangat dekat dengan kantor di mana aku bekerja (kurang dari 5 menit jalan kaki).Kesempatan itu biasanya setiap hari kupergunakan untuk pulang makan di rumah. Hitung-hitung mengurangi beban keuangan karena tinggal di rumah kost. Tapi beberapa hari terakhir ini lain dari biasanya, sejak induk semangku meninggalkan adiknya seorang diri, untuk menemaniku sementara dia pulang kampung dengan keluarganya sebagaimana ceritaku sebelumnya. Sejak iturumah kostku penuh suasana birahi sebagaimana yang kuungkapkan sekarang ini.

Nani Gadisku PART 2

Pengalamanku ke 2 yang lalu sebenarnya masih ada sisipan beberapa kejadian yang belum kuceritakan tentang awal kedekatanku dengan Nani gadis kampung itu akibat di rumah kost tempatku menumpang, sedang ditinggal kakak Nani sekaligus induk semangku.

Nani Gadisku PART 1

Setelah aku mengenal kehidupan di atas ranjang bersama gadisku Nani, yaitu gadis adik ipar induk semangku yang juga temanku sekantor di tempat kostku maka setiap kesempatanku hanya berdua di rumah selalu hanya gejolak birahi memenuhi hari-hariku bersama Nani. Kenikmatan bersetubuh dapat kulakukan bersama seakan tiada puasnya karena terus berulang dan berulang lagiberdua di rumah.

BINAL

Kali ini aku akan bercerita tentang pengalaman pertamaku saat kehilangan keperjakaanku ketika baru selesai semester 1 kuliah. Awalnya begini, aku dan 3 orang sahabatku Steven, Erwin dan Wan Fu sudah akrab sejak kelas 1 SMA. Ketika kuliah hanya tinggal aku & Steven yang sekampus, Erwin dan Wan Fu telah berpisah, tapi kami masih sering kumpul bareng dan main bersama.

Ketika pertama kali masuk kuliah

Ketika pertama kali masuk kuliah, bapakku menitipkan aku kepada seorang temannya di kota tempatku kuliah. Uniknya om Warsito (panggil saja begitu) - teman bapakku itu, punya kost-kostan tapi untuk putri. Aku sendiri mendapat kamar di paling belakang menghadap ketaman belakang yang sengaja aku pilih sendiri karena tempatnya yang paling tenang. Om Warsito seorang pengusaha yang cukup sukses. Dia jarang sekali berada dirumah. Begitu juga Tante Sri, dirumah hanya 2 atau 3 hari dalam seminggu selainnya itu berada di Surabaya dan Denpasar untuk mengurus bisnis souvenirnya yang maju pesat. Yang dirumah hanyalah Ivonne (15 thn) dan Gilbert (8 thn) serta dua orang pembantu yang sudah tua. Kost-kost Om Warsito mempunyai 7 kamar dengan tarif 450 ribu Rupiah sebulan. Untuk ukuran kotaku tarif ini mahal sekali. Dari enam cewek yang kost ternyata beberapa minggu setelah aku berada disana, ketahuan ternyata yang 3 orang adalah kakak angkatanku (satu jurusan) dan yang lainnya nggak jelas kuliah atau apa. Yang jelas mereka jarang berada di kost. Paling-paling malam banget datang terus pagi sekali sudah nggak ada. Sedangkan yang 3 orang ini, Ana, Inggit dan Endah kebalikannya, mereka selalu ada dirumah, jarang kuliah meski mereka juga belum pada punya pacar. Ana yang paling tinggi diantara mereka, dia juga yang paling cantik, tetapi bentuk tubuhnya yang terjelek. Payudaranya lumayan, tetapi pantatnya lebar dan datar. Kulitnya halus dan mulus. Dia juga yang tertua diantara ketiga kakak angkatanku itu. Inggit yang termungil tetapi tubuhnya yang terbagus menurutku. Pantatku indah dan tampak penuh, payudaranya meski nggak besar tetapi bentuknya merangsang. Putingnya lancip, kelihatannya, karena dia jarang pakai BH ketika ada di kost jadi kadang-kadang kelihatan olehku tercetak dibajunya. Sedangkan dari ketiga kakak angkatanku itu, Endahlah yang paling proporsional, tingginya cukup, tidak setinggi Anna tetapi juga tidak semungil Inggit. Pantatnya penuh dan merangsang, payudaranya besar, kulitnya putih dan mulus, rambutnya hitam panjang. Dan yang paling kusuka dari mbak Endah ini adalah kebiasaannya selalu mengenakan celana pendek ketat balap warna putih bila berada dirumah. Kuperhatikan bagian selangkangannya selalu tampak menggunduk seperti sabun gif dan kadang-kadang tampak sekali bibir-bibir labianya membentuk gundukan-gundukan yang tidak rata di bagian selangkangannya. Tahu tidak, hanya dalam sebulan berada di rumah Om Warsito, frekuensi ngocokku naik hampir 4 kali lipat. Jika waktu SMA aku melakukannya seminggu sekali, itu aja kalo lagi nggak kuat banget. Sekarang, pingin nggak pingin asal sudah berada dikamar dan lagi nganggur, bawaannya pingin ngocok terus. Biasanya frekuensi ngocok paling sering justru terjadi dihari Minggu pagi ketika semua berada dikost. Bagaimana tidak, pagi-pagi sekali mereka sudah berkicau didepan kamarku dengan pakaian kebanggaannya masing-masing. Mbak Endah dengan celana ketat putih bergunduknya, mbak Inggit dengan kaos tanpa BH-nya dan mbak Ana dengan rok panjang terusannya yang menerawang. Sambil ngerumpi (apalagi kalo nggak masalah cowok - maklum pada belum punya pacar semua), posisi duduknya nggak beraturan dan seenaknya sendiri. Aku hanya bisa mengamati dari dalam kamar sambil kadang-kadang…lha ini yang enak banget…ngocok. Dan enaknya mereka nggak tahu aku lagi ngapain karena kaca jendelaku yang gelap dan bagi mereka aku hanyalah anak kecil sampai suatu ketika mereka aku yakini menjadikan aku salah satu bahan rumpian mereka. Ketika itu hujan turun, Ivonne dan Gilbert ikut mamanya ke Surabaya. Eh iya aku lupa ceritain tentang Ivonne. Meski doi baru 15 tahun, tahu nggak, bodinya udah kebentuk sempurna, apalagi doi tergolong bongsor. Jadi meski kecil kadang-kadang aku ngaceng juga melihatnya. Tapi karena doi adalah putri Om Warsito, jadi ya nggak masuk dalam koleksi lamunanku. Hujan nggak berhenti dari pagi sampai malam hari, padahal aku lapar banget. Tadi pagi siang udah makan. Tapi mau masuk kedalam rumah kok nggak enak. Apalagi pembantu-pembantu Om Warsito kayaknya nggak suka aku ada dirumah itu. Mungkin diam-diam mereka mengamati tingkah lakuku dan kejadian ketika aku melotot menelanjangi Ivonne ketika doi sedang senam di belakang rumah. Belum pukul 7.00 malam mereka sudah nggak kelihatan, udah tidur. Aku tiduran dikamar sambil nonton TV, acaranya nggak ada yang bagus. Sambil berbaring tergeletak mendengarkan rintikan hujan yang nggak henti-hentinya, aku mulai membayangkan tiga dara yang ada disitu. Nggak terasa kontolku tegang, bagian ujungnya tampak membesar keras (kalian udah tahu khan kalo, kontolku itu kepalanya besar seperti pemukul bedug…kalo belum baca deh cerita Vonny di page93). Ketika sedang melayang kemana-mana, tahu-tahu pintu diketok. "Mas Rudi!", aku segera bangkit dan merapikan celana pendekku …. sial aku nggak pake celana dalam, sehingga tampak sekali sesuatu mencuat dibagian selangkanganku. Belum siap aku, pintu udah terbuka. "Mas, ikutan yuk main poker dikamar Inggit. Kita kekurangan pemain nih!", mbak Inggit memandangi sesuatu yang janggal dibagian selangkanganku. Aku gelagapan. Sambil berusaha menutupi aku menjawab: "Sebentar aku nanti kesana!" "Ditunggu ya!", mbak Inggit menutup pintu dan berlalu. Aku segera melepas celana pendekku dan memakai celana dalam kemudian memakai celana pendek lagi. Wah kesempatan nih, mengamati dari dekat mereka-mereka itu. Aku mengunci pintu, dan berjalan perlahan kekamar mbak Inggit. Sampai didekat pintu kamarnya aku berhenti dan mendengarkan sedikit kata-kata mereka. "Gila An, si Rudi nggak pake celana dalam dan tau nggak, lagi ngaceng dia." "Yang bener Nggit, emang kamu pernah ngliat cowok ngaceng?" "Ya tadi itu" "Huuu….semprul" "Tapi bener kok, kalo nggak, terus yang tadi kelihatan banget ngganjel di celananya itu apa?" Sunyi sejenak, aku terdiam. Akhirnya mereka membicarakan diriku. Aku mau mengetuk pintu tapi ragu-ragu. Terdengar lagi percakapan mereka. "Eh ngomong-ngomong, gedhe nggak?" suara Ana terdengar agar pelan. "Apanya?" "Ya itunya bego!" "Oh..kelihatannya sih gedhe….ah udah udah, nggak usah dibicarain.. sebentar lagi doi kesini..kamu amati sendiri aja deh!" "Eh…bagaimana kalo nanti taruhan pokernya….ehhh…yang kalah telanjang satu persatu…kalo menang boleh pake pakaiannya lagi…gimana?", suara Endah terdengar. "Gila kamu Ndah, emang kamu berani?" "Kita khan udah jagoan main poker, tak jamin dia pasti telanjang bulat nanti" "….ehmmm…kalo ternyata dia jagoan poker bagaimana?" "Ya nasib!" "Dasar eksibisionis kamu Ndah!" "Eh….pikirkan keuntungannya my friends!" Sunyi sejenak lagi. "Kok lama banget ya?" suara Ana "Ngocok kali!" suara Endah menohokku. "Jadi aku tadi ngganggu hajatan orang nih?", Suara Inggit. "Kita tunggu aja deh!" Aku bukannya mengetuk pintu kamar mbak Inggit. Aku tiba-tiba saja menemukan ide entah darimana. Aku balik kekamar dan kembali melepas celana dalamku, memakai celana pendekku dan segera bergegas kekamar mbak Inggit sebelum kontolku ngaceng lagi. Aku mengetuk pintu kamar mbak Inggit. "Masuk Rud!" Aku masuk kamar dan mereka bertiga serentak memandangku sambil sesekali mencuri pandang ke bagian selangkanganku. Aku segera duduk disamping mereka sebelum doi berontak dan tegang. "Katanya poker, mana mbak?" "Ehhh…anu … Rud…ada peraturan khusus di lingkungan kita tentang permainan poker!" Aku pura-pura tidak tahu, dan bertanya: "Apa itu mbak?" "Jelasin An!" "Begini dik Rudi, poker kita taruhannya bukan uang tapi……pakaian!" "Maksud mbak, kalo kalah taruhannya baju gitu!, emang buat apa baju cowok buat mbak-mbak ini?" aku pura-pura bego. "Maksudnya begini lho Rud, biar lebih tegang, setiap kali kamu kalah kartu maka kamu harus melepas baju kamu satu persatu. Kalo kamu menang, kamu boleh pake lagi itu baju. Bagaimana, pasti seru khan!" "Ihhh…mbak-mbak ini genit deh!" aku masih pura-pura bego meski akhirnya kontolku nggak bisa pura-pura lagi. Doi memanjang, membesar dan mengeras didepan mereka-mereka ini. Jadi bisa dibayangin nggak sih, betapa anehnya perasaanku saat itu. Disatu sisi, aku gelagapan dengan ide ini, disisi lain, kontolku terasa enak karena ngaceng didepan cewek-cewek ini dan nggak bisa sama sekali kututupi dari pandangan mereka yang sesekali mengamati bentuk sosisku yang tercetak di celana pendekku. Sempat aku mengutuki keputusanku melepas celana dalam. Suasana jadi nggak enak karena mereka jadi belingsatan sendiri, terutama Endah. Suara nafasnya yang panjang-panjang terdengar sesekali. Terlihat sekali bahwa dia kesulitan mengendalikan perasaannya. Yang tenang malah mbak Ana. "Ayo kita mulai, gimana Rud, berani nggak?" "Boleh deh, tapi kalo nanti Rudi kalah sampai telanjang bulat, jangan diapa-apain ya. Cukup diliatin aja!" "Ok Rud, ini khan hanya permainan!" Mulailah permainan poker maut ini. Sesekali aku mengejan sehingga batang kontolku bergerak-gerak sendiri. Mbak Endah udah nggak mencuri-curi pandang lagi, tapi udah ngeliatin langsung dengan tajam sambil berusaha mengendalikan irama nafasnya. Aku menunduk ……… brengsek di bagian kepalanya tercetak noda basah. Keluar juga pelumasnya. Aku udah kepalang. Malah secara atraktif aku dengan cuek sesekali memegang batang kontolku dan menyamankan posisinya dibawah tatapan mereka. Kartu dibagikan, pada putaran pertama aku bersemangat banget karena yang kalah mbak Endah (karena dia nggak konsentrasi). Dia perlahan melepas kaosnya dan …….. brengsek masih pake kaos singlet. Tetapi payudaranya sudah kelihatan sebagian. Wah…kontolku semakin mengeras dan berkedut-kedut. Demikian juga putaran kedua, wah lagi-lagi keberuntunganku, Mbak Endah terpaksa harus melepas singletnya, …. Sehingga dia hanya pake BH sekarang. Wao …. tampak gundukan yang besar dari daging payudaranya melotot memenuhi BH-nya. Putaran ketiga, Inggit yang kena, ……….. lagi-lagi keberuntunganku, dia melepas sweaternya dan oh my God ……….. payudara mungil nan indah dengan puting yang mencuat indah. Kontolku mulai nggak kompromi lagi, kedutan-kedutannya terasa seperti mengocok-ngocok terasa nikmat sekali. Cairan bening yang menodai celana pendeknya semakin meluas. Inggit berusaha menutupi dadanya sehingga praktis putingnya tertutup kedua tangannya.

"Wah mbak Inggit curang", tiba-tiba saja suaraku keluar spontan. "Curang apa Rud?" "Itu …. Ditutupin, dibuka dong!" "Lho khan peraturannya melepas baju, bukan memamerkan tubuh" "Tapi khan" "Iya bener Rud!", suara mbak Ana yang sampai saat ini masih stabil memecah kesunyian. Aku terdiam dan menyerah. Kebalikan dari Inggit, Endah malah secara demonstratif membuka seluruh bagian yang terbuka itu tanpa berusaha sedikitpun untuk menutupinya. Kontolku semakin berkedut-kedut dan keras sekali terutama bagian kepalanya yang besar tercetak dengan jelas di celana pendekku. Putaran berikutnya, aku yang kena dan terpaksa aku melepas kaosku dan menyisakan singlet. Tidak ada kejadian apa-apa..pikirku demikian, sedangkan pemenangnya adalah mbak Ana sehingga tidak ada kejadian apa-apa karena dia masih berpakaian lengkap. Putaran berikutnya aku lagi yang kena dan mbak Ana lagi yang menang dan terpaksa harus melepas singletku. Aku harus berusaha lebih keras dan tidak kehilangan konsentrasi. Kartu dibagikan dan dimainkan. Horeeee…. Endah terkena. Dia melepas BH-nya dan ….toing!!!…. payudara besar itu terbesar dari kungkungannya dan menggantung dengan indah, putingnya tampak mancung dan berwarna coklat tua. Aku mulai gelagapan dengan irama nafasku. Tapi karena mengejar target untuk melihat mereka-mereka telanjang bulat, aku terus konsentrasi penuh. Dan hasilnya dalam tiga putaran berikutnya, Inggit dan Endah sudah telanjang bulat. Rinciannya dua kali Inggit untuk celana panjang dan celana dalamnya, dan satu untuk celana pendek ketat putih milik mbak Endah. Dia ternyata tidak bercelana dalam (ini menjelaskan kenapa kadang-kadang gundukannya tampak bergelombang karena bibir-bibir labianya yang ternyata memang tebal). Sementara mbak Ana sendiri sangat piawai bermain poker sehingga dia masih berpakaian lengkap sampai saat ini. Sedangkan aku sendiri tinggal menyisakan satu untuk menjadi telanjang bulat. Kontolku mulai berontak berat. Kedutan-kedutannya seperti memompa sesuatu untuk keluar. tapi aku tahan-tahan. Dalam keadaan seperti itu justru sekarang akulah yang tidak berkonsentrasi. Gimana bisa konsentrasi jika sesekali Endah membuka kakinya sehingga tampak gundukan yang terawat rapi dengan jembut yang dicukur rapi dan indah modelnya. Klitorisnya tak mampu tertutupi oleh gundukan itu. Begitu juga bibir-bibir labianya tampak menggelambir merah basah. Dan ini yang membuat aku nggak kuat, sesekali dia menggerakkan pinggulnya kekarpet yang berakibat pada bergeseknya vaginanya ke karpet. Terdengar nafas tertahan yang tak mampu ditutupinya. Gila bener!. Sedangkan si Inggit sudah menghilangkan minatku kepadanya karena dia menutup kakinya rapat-rapat, begitu juga posisi tangannya yang menyilang menutupi kedua buah putingnya. Sedangkan mbak Ana, sudah hilang tadi-tadi dari sasaran birahiku sementara ini. Keasikan mengamati mereka membuat putaran kali ini menjadi awal dari hilangnya keperjakaanku. Aku kalah pada putaran itu dan terpaksa harus melepas celana pendekku. Aku berdiri dan membuka celana pendekku sehingga batang kontolku yang tadi terkungkung tiba-tiba menyentak kedepan dengan cepat dan membuat kepalanya yang besar tampak seperti pemukul bedug. Ketiga cewek itu menahan nafas ketika batang kontolku tampak menegang penuh dan mengacung kedepan, terutama mbak Endah. Dia sudah bukan lagi menahan nafas tetapi sudah terdengar melenguh karena bersamaan dengan telanjang bulatnya aku dia menggerakkan pinggulnya cepat sehingga menggesekkan klitorisnya kekarpet. Aku duduk lagi, dan kami beberapa saat tidak berkata apa-apa hanya saling memandang masing-masing dengan pandangan yang aneh. Tiba-tiba… "Rud, ikut mbak …………kekamar mandi ………yuk!", suara mbak Endah perlahan sekali nyaris berbisik. Aku seperti kerbau dicucuk hidungnya dan mengikuti mbak Endah masuk kekamar mandi di kamar Inggit dibawah tatapan Inggit dan Ana yang masih terdiam dan tak sanggup berkata apa-apa. Mbak Endah masuk dan setelah aku masuk juga dia mengunci pintu dan memandangiku terus tiba-tiba saja……aku dipeluknya erat dan aku merasakan tangannya memegang batang kontolku dengan lembut. "Do something…Rud!", suaranya nyaris berbisik. Mbak Endah duduk dipinggiran bak kamar mandi dan perlahan membuka kedua pahanya sehingga sekarang tampak jelas semua bagian vaginanya. Aku udah nggak ingat apa-apa yang kutahu tiba-tiba saja ada tangan memegang batang kontolku dan mengarahkannya ketumpukan daging-daging berwarna merah basah dan mengkilat itu. Kemudian yang terasa seperti ada jepitan yang kuat dikontolku terutama disekujur kepalanya yang tampak keras sekali. Aku mendengarkan suara desahan yang keras. Aku nggak tahu apakah mbak Endah masih perawan atau tidak, aku juga tidak memperhatikan apa ada darah yang keluar atau tidak. Yang paling kuingat adalah ketika aku menusuk-nusukkan batangku dengan cepat diiringi oleh suara lenguhan yang cepat dan diakhiri oleh jeritan yang panjang yang keluar dari mulut Mbak Endah dan aku merasakan keluarnya spermaku diiringi oleh rasa nikmat yang amat sangat, jauh lebih enak dibandingkan dengan ngocok swalayan. Sampai beberapa saat ketika aku sadar, aku tiba-tiba merasa malu karena telanjang bulat di kamar kost orang lain, cewek lagi. Sampai sekarang aku masih ingat sekali kejadian hilangnya keperjakaanku itu. Dan tahu tidak siapa diantara mereka yang setelah kejadian itu justru yang rutin mengunjungi kamarku dan belajar bersama tentang sex. Tebak deh….. dan kirim permintaan cerita itu ke setiawanrudi@h... agar aku mau menceritakannya

KENIKMATAN GADIS BELIA

Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L---- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah..., jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L----muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, "Mana ortu kamu...", dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
"Oohh jawab saya," saya tanya lagi "Terus Papa kamu mana?" dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang.
Tiba-tiba dia bilang "Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang". Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang "Pembantu kamu mana?", dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
"oohh...", jawab saya.
Saya tanya lagi, "jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?", dia jawab iya.
"Terus Papa kamu yang bukain siapa..."
"saya..." jawabnya.
"Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih...", tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam 24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi "Kamu memang mau jadi pacar saya...".
Dia bilang "Iya...".
Lalu saya bilang, "kalau gitu sini dong dekat-dekat saya...", belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh "Ohh.., oohh sakit". katanya.

Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, "Tahan sedikit yah...", dia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, "Uuhh..., nikmat sayang", kata saya.

"Teruss...", dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, "aahh..., aahh". Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. "Aahh..., sakkiitt...", tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, "Ahh..., aahh...", kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, "aahh..., aakkhh... ohh..., nikmat sekali...", dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, "Aakkhh..., akkhh..., lagi..., lagii..".

Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.

Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, "Aakkhh..., aakkhh...", sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya. "aakk..., akk..., nikmat sayyaangg...". Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, "Aahh..., aahh..., aahh..., aahh", sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan-pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, "Aahh..., ssaayaa..,. ssaayaangg..., kaammuu...", sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penissaya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan-pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, "Ahh..., aahh...", saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, "Ssaakkiitt...". Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata "Tahann.. sayang... cuman sebentar kok..."

Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, "Ahh..., aahh..., ahh..., kamu sayang sama lakukan?" dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. "Enak sayang?", kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, "Aahh..., aahh..." lalu saya mulai bekerja